Sabtu, 02 Mei 2015

Tips dalam mendirikan Start-UP


Mencari partner
Untuk mengembangkan start up diperlukan kerjasama team, sementara itu untuk menghasilkan kerjasama tim yang baik penting untuk mencari partner yang sesuai.

Menurut Co-founder 8 Villages Sanny Gaddafi (Saga), untuk mencari partner yang cocok perlu lebih dari limakali pertemuan. Dia juga menyarankan agar tidak menjadikan sahabat sebagai partner kerja.

Lebih dari itu, Saga berpendapat bahwa partner harus dapat saling melengkapi dan harus memiliki visi dan misi yang sama sehingga dapat menciptakan start up yang tidak hanya biasa-biasa saja, tetapi luar biasa.

"Cari yang dapat mengisi ke kosongan kamu, cari yang 1+1 bukan sama dengan 2, tapi 11," kata Saga.

Untuk mendirikan start up dibutuhkan setidaknya tiga orang yang bertindak sebagai Hacker (mengurusi bagian IT), Hipster (mengurusi bagian desain) dan Hustler (mengurusi bagian bisnis), oleh karena itu, Saga juga menyarankan untuk mencari partner dari latar pendidikan atau keahlian yang berbeda.

Tidak hanya tentang teknis, ex-CEO Valadoo Jaka Wiradisuria mengatakan bahwa mencari partner juga membutuhkan feeling. "Lebih susah dari mencari pacar atau bahkan isteri," kata dia.

Lebih lanjut, menurut Jaka, untuk mencari partner yang tepat seseorang harus mengenal dirinya sendiri, baik dari sisi teknis maupun kepribadian.

"Dalam kepribadian ada core values yang kita punya. Nilai-nilai itu juga harus dihargai oleh partner," ujar dia.
"Founder adalah partner in live, susah seneng akan bareng dia," tambah dia.

Berdasarkan pengalaman Co-founder Ohdio.FM Ario Tamat, dalam menginvestasikan uangnya, investor justru bertanya mengenai orang-orang yang berada di belakang start up dibandingkan dengan masalah teknis.

"Presentasi panjang lebar tentang start up, tapi dia (investor) malah tanya founder-nya siapa saja, latar belakangnya bagaimana," kata Ario.

Ketiga founder dari tiga start up tersebut berbagi pengalaman "jatuh bangun" mereka dalam acara Start Up Move On Fail Fast, Fail Forward di Jakarta, Sabtu.



Ubah Mindset, Kunci kembangkan start up
Anggapan bahwa untuk mengembangkan perusahaan perintis teknologi atau dikenal dengan istilah start up diperlukan investor tidak sepenuhnya benar, menurut Jaka Wiradisuria, ex-CEO Valadoo.

“Mindset salah itu adalah berkembang butuh investor, tidak bisa hidup tanpa investor itu salah. Kita harus dari awal mematangkan produk dulu,” kata Jaka dalam diskusi Start Up Move On Fail Fast, Fail Forward di Jakarta, Sabtu.

Menurut Jaka, founder harus mematangkan start up-nya terlebih dahulu dengan cara menguji produk ke konsumen misalnya. Selain itu, pemilik start up juga mengetahui rencana, maupun target dari perusahaan perintis teknologi miliknya.

Jika tidak, Jaka mengatakan, perusahaan tersebut akan tergantung dengan keinginan investor. Investor bisa jadi “nahkoda” karena pemilik start up tidak mengetahui tujuan dari perusahaannya.

Hal senada juga disampaikan Sanny Gaddafi (Saga) Co-founder 8 Villages yang mengatakan bahwa kebanyakan founder justru kebingungan ketika mendapatkan investasi.

“Kebanyakan orang tidak tahu buat apa uang investasi, pada akhirnya mereka hanya menghabiskan uang tersebut dan berpikir investor selanjutnya siapa ya,” ujar dia.

Saga berpendapat hal tersebut akan mematikan start up itu sendiri karena founder pada akhirnya tidak fokus dengan pengembangan atau inovasi-inovasi di dalam perusahaan perintis teknologi miliknya.

“Kalo kita mau berkembang mau mengerjakan bisnis, kita anggap itu sebagai utang, jangan anggap itu sebagai hak,” kata dia

Dengan menganggap sebagai utang, menurut Saga, founder akan terpacu mengembangkan start up-nya, sehingga secara otomatis akan berdampak pada pendapatan perusahaan.

“Bikin start up bukan untuk diinvestasi,” tambah dia.
Sumber : Antara-news

Jumat, 01 Mei 2015

Wanita Jogja dan teknologi



Akhir-akhir ini anda pasti sering sekali mendengar tentang teknologi 4G-LTE yang sedang gencar di beberapa media online, tapi tahukah anda perbedaan antara 4G dengan 3G yang masih banyak digunakan saat ini? Berikut penjelasannya untuk anda.

Perbedaan 3G dan 4G

Teknologi generasi ketiga atau yang biasa kita sebut 3g sudah kita rasakan manfaatnya dalam ber-internet ria, pada awal tahun 2001 sampai dengan 2003 yang memang sebuah awal dari pengenalan teknologi 3g ini yang cukup nyaman untuk dipakai dikarenakan kecepatannya cukup meningkat apabila dibandingkan dengan teknologi dibawahnya seperti EDGE.

3G atau sering disebut juga dengan UMTS atau Universal Mobile Telecommunication Service yang memiliki kecepatan di atas EDGE, selain cocok untuk digunakan email, sms dan browsing, namun sudah mendukung video conference dan video call.

Untuk 4G jika dilihat dari sesi kecepatan jaringan dia sudah mencapai 185 Mbps untuk kecepatan download dan up to 41 mbps untuk kecepatan upload, hal ini sudah di tes oleh beberapa provider di indonesia. Selain itu mereka juga tengah berlomba-lomba untuk memperluas jaringan 4g mereka ke seluruh pelosok negri agar dapat dinikmati oleh setiap kalangan. Lantas apa hubungannya dengan wanita jogja?

Yogyakarta atau biasa disebut jogja merupakan salah satu daerah yang cukup melek teknologi, hal itu mungkin dikarenakan mahasiswa dan cewek jogja atau mahasiswi dari kampus-kampus teknologi yang turut berkontribusi di Daerah Istimewa Yogyakarta (D.I.Y). kebanyakan mahasiswi jogja masih cukup sering pergi ke warnet maupun net-cafĂ© untuk browsing baik itu sekedar online di sosial media ataupun untuk mencari informasi yang dibutuhkan untuk mengerjakan tugas-tugas yang mereka dapat di kampus. Namun kebiasaan itu mulai berubah semenjak kedatangan teknologi 4g di daerah jogja, meskipun di jogja baru beberapa area yang terjangkau sinyal 4g. Mereka (mahasiswi jogja) berpendapat bahwa 4g cukup membantu mereka dalam mendapatkan informasi lebih cepat dari biasanya, sehingga mereka mempunyai lebih banyak waktu luang untuk digunakan pada kegiatan – kegiatan positif lainnya.

Para wanita yogyakarta yang sejatinya sebagian dari mereka merupakan perempuan jogja asli maupun mahasiswi yogyakarta yang berasal dari luar provinsi pastinya menghendaki kecepatan akses dari teknologi 4G seperti di ibukota jakarta. Yang pastinya hal itu akan cukup bermanfaat bagi mereka, baik itu untuk tujuan akademis, bisnis, maupun sekedar saling sapa dengan kerabat mereka yang berada di luar kota atau profinsi menggunakan video call ataupun media sosial (sosmed). Seperti itulah kira-kira gambaran yang ada apabila teknologi generasi ke empat atau 4G sudah diterapkan secara merata di wilayah yogyakarta, dan bila perangkat pendukung seperti smart phone sudah mulai marak digunakan oleh masyarakat jogja.

Kamis, 26 April 2012

Cara memperbaiki semua flashdisk yang minta di format di laptop / komputer


Berdasarkan pengalaman saya , hal ini disebabkan karena tidak adanya registry StorageDevicePolicies .
Oleh karena itu kita akan mencoba membuat manual registrynya .
Langkah-langkahnya sebagai berikut :
  1. Klik Start -> Klik Run -> Ketik regedit.
  2. Cari HKEY_LOCALMACHINE\SYSTEM\CurrentControlSet\Control.
  3. Klik kanan pada folder Control -> Pilih New -> Pilih Key -> Beri nama “StorageDevicePolicies”  (tanpa tanda kutip).
  4. Klik kanan pada folder “StorageDevicePolicies” (yang baru saja dibuat) -> Pilih New -> Dword Value -> Beri nama “WriteProtect” (tanpa tanda kutip).
  5. Klik 2x Key “WriteProtect” (yang baru saja dibuat) -> Ganti pada kolom Value Data menjadi 0 (jika sudah 0 valuenya ga usah diganti)
  6. Restart komputer Bila diperlukan, sebelum restart komputer silahkan dicoba memformat dulu (jangan gunakan Quick format).
Note :
  • coba di turnoff system restorenya kalau misalnya begitu lagi lalu ulangi langkahnya dari awal
  • jangan lupa uninstall antivirus yang lama .. coba ganti antivirus yang lain ( saya sih pake avira yang free aman2 aja :D )
Selamat mencoba, semoga bermanfaat!! Indahnya berbagi..